Kamis, 07 Mei 2009

ALQUR'AN SUNNAH-AYIAH ADALAH SATU !!!


Islam Syiah

Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah). Ada beberapa riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim
—————————————–
Al-Quran Sunni-Syiah Satu, Tiada Perobahan dalam Al-Quran
Semakin banyak tulisan yang menyebutkan bahwa kaum Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, hal ini menjadi salah satu alasan kafirnya Syiah dari sekian banyak tuduhan yang tidak berdasar. Tuduhan yang mengatakan bahwa kaum Syiah mempunyai Al-Quran yang berbeda sangatlah tidak adil.
Kaum Syiah meyakini tidak terjadinya tahrif di dalam Al-Quran dari zaman kapan pun sampai zaman kapan pun. Bukankah Allah Azza wa Jalla berfirman dalam surah Al-Hijr ayat 9, “Sungguh Kamilah yang menurunkan Al-Quran dan sungguh Kamilah yang menjaganya.”
Tidak dapat disangkal bahwa di dalam kitab hadis Syiah terdapat riwayat yang menyebutkan hal tersebut, namun perlu diingat bahwa kitab tersebut, Al-Kafi, bukanlah kitab hadis yang shahih, sebagaimana Shahih Bukhari atau Muslim.
Seorang ulama Syiah, Sayid Hasyim Ma’ruf Al-Hasani, pernah melakukan penelitian dan menyatakan bahwa Al-Kafi berisi 16.199 hadis; diantaranya 5.072 dianggap shahih, 144 hasan, 1128 nuwatstsa’, 302 qawiy, dan 9.480 hadis dhaif. Pengklasifikasian itu pun baru berdasarkan keabsahan sanad, belum isinya (matan).
Penolakan Tahrif (Perobahan) Al-Quran oleh Ulama Syiah
Abu Ja’far Muhammad ibn Ali ibn Husain ibn Babawaih Al-Qummiy (Ash-Shaduq): “Keyakinan kita tentang Al-Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yaitu ada di antara dua sisi kitab yang berada di tangan kaum Muslim dan tidak lebih dari itu. Maka barang siapa yang mengatakan bahwa kami meyakini yang lebih dari itu, pastilah orang tersebut berbuat dusta.”
Syaikh Thaifah Abu Ja’far Muhammad ibn Hasan Ath-Thusiy: “Pembicaraan tentang adanya penambahan dan pengurangan pada Al-Quran adalah sesuatu yang tidak pantas… Dan itulah yang sesuai dengan kebenaran dari mazhab kita. Itulah yang dibela Al-Murtadha (Imam Ali ibn Abi Thalib AS), yang tampak dari banyak riwayat…”
Abu Ali Thabarsi: “…Adapun tentang adanya penambahan pada Al-Quran maka hal tersebut disepakati sebagai sesuatu yang batil…”
Sayid Ibnu Thawus: “Imamiyah yakin tidak ada tahrif dalam Al-Quran.”
Syaikh Muhammad ibn Hasan Al-Hurr Al-Amiliy: “Barang siapa mau meneliti tarikh, riwayat-riwayat dan atsar, maka dia tahu dengan pasti bahwa Al-Quran telah ditetapkan pada tingkat ke-mutawatir-an yang sangat kuat, dan dengan penukilan ribuan sahabat, dan bahwa Al-Quran telah tersusun dan terkumpul rapi pada masa Rasulallah SAW.”
Syaikh Abu Zuhrah: “Sejumlah ulama besar Imamiyah yang diketuai Al-Murtadha, Syaikh Thusi, dan lain-lain menolak…”
Ayatullah Sayid Burujerdi: “Merupakan suatu kemestian logis untuk menolak (tahrif) dan kabar-kabar yang menolak kemurnian ayat Al-Quran amat sangat lemah dan bertentang dengan hadis yang pasti (qath’i) dan mesti (dharurah), malah bertentangan dengan tujuan kenabian.Kemudian, sungguh sangat mengherankan adanya sebagian orang-orang yang mempertahankan kabar angin ini, lisan maupun tulisan yang tersimpan selama lebih dari tiga belas abad, yang menyatakan bahwa ada penghapusan ayat-ayat dalam Al-Quran Al-Majid.”
Allamah Syahsyahani: “Hadis-hadis ini tidak pantas diperhatikan bila ditinjau dari segi sanadnya. Tidak ada seorang pun yang menyatakan bahwa ada satu ayat saja dari hadis itu yang shahih… Hadis-hadis ini bertentangan dengan hadis-hadis mutawatir yang lebih kuat, dan sesuai dengan Al-Quran, sunnah, akal sehat, dan kesepakatan.”
Imam Khomaini: “Lemah, tidak pantas berdalil dengannya.”
Dan masih banyak ulama-ulama Syiah yang menolak perubahan Al-Quran, seperti Zainuddin Al-Bayadli, Al-Muqaddas Al-Baghdadi, Kasyful-Ghitha, Sayid Muhammad Jawad Al-Balaghiy, Sayid Muhammad Thabathaba’i Bahrul-Ulum, Ayatullah Kuh Kamariy, Sayid Muhsin Al-Amin Al-Amiliy, Sayid Muhammad Mahdi Syirazy, dll. Oleh karena di dalam kitab Al-Kafi terdapat hadis yang lemah, maka juga terdapat periwayat (rawi) yang lemah. Seperti Abi Al-Jarud Ziyad ibn Mundzir As-Sarhub (pemimpin sekte Jarudiyah/Sarhubiyah), Ahmad ibn Muhammad As-Sayyari, Mankhal ibn Jamil Al-Kufi, Muhammad ibn Hasan ibn Jumhur, dll.
Itulah akidah Syiah Imamiyah terhadap Al-Quran yang tidak mengalami pengurangan atau penambahan hingga akhir zaman. Jadi apabila masih ada yang mengatakan bahwa Syiah memiliki Al-Quran yang berbeda, itu merupakan hal dusta, dan lebih konyol lagi ada yang mengatakan bahwa Jibril AS salah menyampaikan wahyu yang seharusnya diturunkan kepada Imam Ali AS. Pastilah kaum Syiah akan menertawakannya.
Al-Quran yang ada di Iran pun (yang notabene mayoritas Syiah) tidak sedikit yang didatangkan/dicetak dari Beirut (Lebanon) dan Kairo (Mesir). Iran pun mengadakan MTQ Internasional yang dihadiri negara-negara Timur Tengah, bahkan kalau tidak salah Indonesia pernah mengirim wakilnya. Entah bagaimana jadinya jika Quran yang dibaca wakil Iran berbeda? Pastilah juri akan pusing menilainya…
Pernah di kampus ada seminar tentang “Dikotomi Sunni Syiah” dan tema Al-Quran Syiah pun sempat ditanyakan. Pak Miftah (sebagai pembicara dari Syiah nya) menjelaskan, “Jadi perbedaan antara Al-Quran Syiah dan (Ahlus) Sunnah hanya terletak pada jenis kertas saja. Di Iran dicetak dengan jenis kertas yang paling mahal dan di dalamnya terdapat keindahan, karena Al-Quran merupakan kalamullah.” Jadi kaum Syiah di Indonesia tidak perlu impor Quran dari Iran, karena Quran nya sama.
Hadis Perubahan Al-Quran dalam Kitab Ahlus Sunnah
Seperti yang sudah disebutkan bahwa Al-Kafi bukanlah kitab shahih, yang hadisnya pun sampai sekarang masih diteliti, makanya tidak bernama “Shahih Al-Kafi”. Lucunya (atau tidak lucunya) di dalam kitab Ahlus Sunnah, yang bernama Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, juga terdapat hadis tentang perubahan Al-Quran. Bedanya, ini kitab shahih! Tentu saja shahih menurut penulisnya. Jadi di dalam Shahih Bukhari atau Muslim tidak perlu pengklasifikasian hadis, karena semuanya shahih (menurut saudara Ahlus Sunnah).
Tentang Surah Al-Lail
Dari Qabshah ibn Uqbah yang berasal dari Ibrahim ibn Al-Qamah. Ia berkata kepada kami: “Saya bersama pengikut Abdullah ibn Ubay datang ke Syam. Abu Darda’ yang mendengar kedatangan kami segera datang dan bertanya: ‘Adakah di antara kalian yang membaca Al-Quran?’ Orang-orang menunjuk saya. Kemudian ia berkata: ‘Bacalah!’ Maka saya pun membaca: Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wadzdzakraa wal-untsaa… Mendengar itu dia bertanya: ‘Apakah engkau mendengar dari mulut temanmu Abdullah ibn Ubay?’ Saya menjawab: ‘Ya.’ Ia melanjutkan: ‘Saya sendiri mendengarnya dari mulut Nabi SAW. Dan mereka menolak untuk menerimanya’.” (Shahih Bukhari, Kitab At-Tafsir, bab Surah wal-Laili idzaa yaghsyaa; pada catatan kaki As-Sanadiy, jilid III, hlm. 139; jilid VI, hlm. 21; jilid V, hlm. 35; Musnad Ahmad, jilid VI, hlm. 449, 451; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 358 dari Said ibn Manshur, Ahmad Abd ibn Hamid, Bukhari, Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir, Ibnu Marduwaih, Ibn Al-Qamah, dll.) Padahal yang tertulis dalam Al-Quran sekarang adalah Wal-Laili idzaa yaghsyaa, wan-nahaari idzaa tajallaa, wamaa khalaqadzdzakraa wal-untsaa…
Ayat Rajam
Umar ibn Khaththab berkata: “Bila bukan karena orang akan mengatakan bahwa Umar menambah (ayat) ke dalam Kitab Allah, akan kutulis ayat rajam dengan tanganku sendiri.” (Shahih Bukhari, bab Asy-Syahadah ‘indal-Hakim fi Wilayatil-Qadha; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25-26; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid I, hlm. 230; jilid V, hlm. 179 dari Imam Malik, Bukhari, Muslim, dan Ibnu Dhurais, dan hlm. 180 berasal dari Nasa’i, Ahmad, Ibnu Auf; Musnad Ahmad, jilid I, hlm. 23, 29, 36, 40, 43, 47, 50, 55; jilid V, hlm. 132, 183; Hayat Ash-Shahabah, jilid II, hlm. 12; jilid III, hlm. 449) Jadi, Umar meyakini Ayat Rajam itu ada dalam Al-Quran, tapi kenyataannya tidak ada. Tapi Umar tidak menulisnya karena takut ucapan orang-orang bahwa Umar menambah ayat. Seperti itulah yang dijelaskan As-Suyuthi dalam Al-Itqan jilid II, hlm. 26, mengutip tulisan Az-Zarkasyi: “Tampaknya penulisan ayat tersebut boleh saja. Hanya ucapan oranglah yang mencegah (Umar melakukan) hal itu… Seharusnya ayat itu dimasukkan ke dalam Al-Quran, ayat itu semestinya ditulis.” Ayat rajam ini juga pernah disebut-sebut waktu saya (pertama kali) belajar Ulumul-Quran di kampus
An-Naas dan Al-Falaq
Dinukil dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia membuang Surah Mu’awidzdzatain (An-Naas dan Al-Falaq) dari mushhafnya dan mengatakan keduanya tidak termasuk Al-Quran. (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid VI, hlm. 146; Ruhul-Ma’ani, jilid I, hlm. 24; Al-Itqan, jilid I, hlm. 79; Fathul-Bari, jilid VIII, hlm. 581)
195 Ayat Surah Al-Ahzab Hilang
Demikian riwayat dari Abdurrazaq yang berasal dari Tsauri, dari Zirr ibn Hubaisy yang berkata: “Ubay ibn Kaab telah bertanya kepada saya: ‘Berapa jumlah ayat yang kalian baca dalam surah Al-Ahzab?’ Saya menjawab: ‘73 atau 74 ayat.’ Dia bertanya: ‘Hanya sebanyak itu? Pada mulanya surah tersebut sama panjangnya dengan Al-Baqarah atau lebih. Dan di dalamnya terdapat surah (ayat) rajam.’ Saya bertanya: ‘Wahai Abu Mundzir, bagaimana bunyinya?’ Dia menjawab: ‘Ayat tersebut berbunyi: Idzaa zanayaa asysyaikhu wasy-syaikhah farjamuu…’.” (Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Mushhanaf Abdurrazaq, jilid VII, hlm. 320; Muntakhab Kanzul-Ummal pada catatan kaki Musnad Ahmad, jilid II, hlm. 1) Ternyata ayat rajam tersebut tidak ada dalam Al-Quran, dan tampaknya sama seperti apa yang diucapkan oleh khalifah kedua bahwa ada ayat rajam.
Ada Surah seperti At-Taubah yang Hilang
Abu Harb ibn Abi Aswad meriwayatkan dari ayahnya yang berkata: “Abu Musa Al-Asyari berkunjung ke Basrah untuk menemui para qari di sana. Dia bertemu dengan 300 qari dan berkata kepada mereka: ‘Kalian adalah sebaik-baiknya penduduk Basrah dan qari mereka.’ Maka mereka membaca surah panjang seperti Al-Bara’ah (At-Taubah). Saya lupa surah tersebut. Akan tetapi beberapa ayatnya masih saya hapal, yaitu: …Law kaani li ibni Adam… Demikian pula kami pernah membaca surah mirip dengan satu surah yang diawali shabaha lillaahi. Saya telah lupa surah itu. Hanya beberapa ayatnya masih saya ingat. Di antaranya: Yaa ayyuhalladziina aamanuu limaa taquuluu… (Shahih Muslim, jilid II, hlm. 100; Al-Itqan, jilid II, hlm. 25; Al-Burhan fii Ulumil-Quran, jilid II, hlm. 43)
Ayat Radha’ah yang Hilang
Dari Ummul-Mu’minin Aisyah yang berkata: “Di antara ayat-ayat Al-Quran yang diwahyukan adalah: “‘Asyru radha’aat ma’luumaat yuharramna… (Shahih Muslim, jilid IV, hlm. 167-168; Al-Bidayatul-Mujtahid, jilid II, hlm. 36; Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 135)
Awal Surah At-Taubah Hilang dengan Basmalah
Dari Imam Malik: “Ketika awal surah Al-Bara’ah (At-Taubah) hilang, maka basmalah (bismillahirrahmaanirrahiim) pun hilang bersamanya. Padahal sudah pasti sebelumnya surah tersebut sama panjangnya dengan surah Al-Baqarah (Al-Itqan, jilid I, hlm. 65) Sebagaimana diketahui bersama bahwa At-Taubah merupakan satu-satunya surah yang tidak diawali dengan basmalah. Dan terlihat riwayat ini sesuai dengan riwayat sebelumnya bahwa 195 ayat surah At-Taubah hilang, sehingga panjangnya sama seperti Al-Baqarah.
Ayat Ali Mawla Mu’minin
Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang berkata: “Pada masa Rasulallah kami membaca ayat yang berbunyi: Yaa ayyuharrasuul ballagh maa anzal ilayka min rabbika anna Aliyan mawlal-mu’minin wa in lam… (Ad-Durr Al-Mantsur, jilid II, hlm. 298; At-Tahmid fi Ulumil-Quran, jilid I, hlm. 261) Padahal dalam surah Al-Maidah ayat 67 tidak ada kata-kata Ali, dan kaum Syiah pun menolak adanya kalimat tersebut dalam Al-Quran.
Itulah sebagian riwayat tahrif Al-Quran yang ada dalam kitab Ahlus Sunnah. Jadi baik Syiah maupun Ahlus Sunnah ada riwayat tahrif, bedanya yang satu shahih yang satu lagi tidak shahih (menurut masing-masing). Jadi jangan mengatakan bahwa Syiah mempunyai Quran yang berbeda, sementara di sisi lain ada juga riwayat tahrif dalam kitab shahih. Sudah saatnya berhenti bertikai. Justru kita harus mengamalkan apa yang ada di Al-Quran Al-Karim, insya Allah. Mohon maaf apabila ada kata-kata kurang berkenan. [YAPI]
Ditulis dalam Kajian al-Quran & Hadis, Keyakinan Syiah | & Komentar
7 Tanggapan
1.di/pada Oktober 2, 2007 pada 5:28 am | Balas secondprince
Ya saya pernah mengkaji masalah ini
Pihak yang menuduh Syiah punya Al Quran sendiri itu berlebihan memang dan mereka cuma mengulang lagu lagu lama yang basi
Anehnya mereka seolah-olah tidak pernah mendengar atau membaca tulisan Ulama-ulama syiah sendiri tentang ini
mereka maunya terus berbicara itu-itu aja, dan akhirnya dikutip oleh blog-blog pengikut muda mereka yang cumanya mengikut saja dan tidak pernah mengkaji sendiri
kemudian dipasarkan lagi fitnahan lama itu hanya sekedar untuk mendiskreditkan Syiah
mengaku golongan yang selamat tetapi mudah memfitnah orang lain
Sebenarnya Syiah mana yang mereka bicarakan itu
Syiah yang ada dalam pikiran mereka sendiri
salam kenal Mas
ini pertama kali saya kesini


2.di/pada Oktober 26, 2007 pada 8:11 am | Balas Nasrullah
saya butuh tata cara sholat tuk mashab syiah!
——————————–
Islam Syiah:
Silahkan hubungi beberapa pusat Syiah yang terdekat…atau kedutaan Iran.


3.di/pada Februari 7, 2008 pada 12:18 pm | Balas Akidah Syiah Tentang Al Quran « Analisis Pencari Kebenaran
[...] Yang saya maksud, lihat saja tulisan blog haulasyiah yang mengutip banyak riwayat dari Kitab Syiah tetapi satupun dia tidak menampilkan bagaimana kedudukan riwayat itu menurut metode keilmuan di sisi Syiah. Apa kata Ulama Syiah tentang riwayat yang dikutip blog haulasyiah tersebut tidak pernah dia bersusah-susah untuk menampilkannya?. Jelas sekali tulisan haulasyiah itu hanya sekedar nukilan-nukilan lama, lagu lama yang basi, fitnah biasa bagi Salafy yang mengkafirkan Syiah. Sekedar Informasi anda bisa lihat pandangan Pengikut Syiah sendiri dan bagaimana pendapat Ulama Syiah yang dikutip oleh pengikut Syiah dan bukan… [...]


4.di/pada Oktober 12, 2008 pada 10:35 am | Balas azeĐĆila
Pernah di kampus ada seminar tentang “Dikotomi Sunni Syiah” dan tema Al-Quran Syiah pun sempat ditanyakan. Pak Miftah (sebagai pembicara dari Syiah nya) menjelaskan, “Jadi perbedaan antara Al-Quran Syiah dan (Ahlus) Sunnah hanya terletak pada jenis kertas saja. Di Iran dicetak dengan jenis kertas yang paling mahal dan di dalamnya terdapat keindahan, karena Al-Quran merupakan kalamullah.” Jadi kaum Syiah di Indonesia tidak perlu impor Quran dari Iran, karena Quran nya sama. <= kaya kenal sama tulisan ini..


5.di/pada Oktober 15, 2008 pada 3:09 pm | Balas Single Fighter
Kalo dua, tiga ulama diantara ulama Syiah yang pura-pura menolak adanya perubahan dalam Al Qur’an itu, yakin dan percayalah kalo mereka lagi menjalankankan ajian pamungkasnya yaitu, bertaqiyyah;
Coba ente simak ocehan ulama-ulama mereka yang dibawah ini :
Berkata Ni’matullah Aljazairi : Adalah, Almurtadla dan Assaduq dan Assyaikh Attibrisi yang menyalahi ulama-ulama Syiah yang lain dan berkata tidak terjadi perubahan, dan Al Qur’an yang ada inilah Al Qur’an yang diturunkan; yang dhohir dari pernyataan mereka itu, hanya untuk banyak mashlahat, diantaranya, mencegah celaan orang terhadap Al Qur’an, sebab mereka ulama-ulama tersebut sendiri meriwayatkan dalam buku-buku
mereka banyak khabaran yang menetapkan adanya perubahan dalam Al Qur’an, dan ayat ini semestinya begini kemudian dirubah begitu (Alanwar Annu’maniyah).
Ibnu Babawaih Alqummi, digelari Assaduq, menampakan diri menolak adanya perubahan, di Alitiqadat, tetapi di kitabnya yang lain (ALKHISAL hal. 83) dia menetapkan adanya perubahan itu, begitu juga Abu Ali Attibrisi, tafsirnya mengandung banyak riwayat yang menetapkan adanya perubahan-perubahan itu (tafsir Majma’ilbayan juz.3 hal. 32 cetakan Teheran 1374 H).
—————————————————————

Islam Syiah:
Anda ini lucu, berdalil dengan teks kitab hadis sesuai dengan makna zahirnya saja. Anda perlu mempelajari lagi perbedaan metology mazhab-mazhab yang ada berkaitan dengan teks. Kalau Wahhaby (salafy) mereka cenderung teks book thingking yang tidak menerima takwil. Padahal sebagian Sunni juga menerima takwil.
Kalaulah (anggap) bahwa ungkapan anda itu benar, lantas apa yang anda katakan ketika ada hadis dari kitab Sahih anda yang menyatakan ada surat yang hilang karena dimakan rayap? atau ada hadis2 lain yang membuktikan perobahan dalam al-Quran? padahal anda sudah terburu menanamainya dengan kitab sahih yang tidak bisa digangu-gugat? Saran saya, lihat kitab sendiri sebelum menilai kitab orang lain!


6.di/pada Februari 3, 2009 pada 9:44 am | Balas The Four C
Yang pasti sejak dahulu hingga kini kita kaum muslim, para orientalis, dan seluruh manusia tidak pernah menemukan adanya al-Qur’an yang berbeda dari yang sekarang baik itu pada kaum Syiah Ghulat (yang meng-aku2 Syiah) itu sekalipun.
Sementara Ahlusunnah, mreka “mampu melihat semut di seberang lautan tetapi gajah di pelupuk mata luput dari pandangan.”
Imam Malik bin Anas pendiri Mazhab Maliki juga berkeyakinan bahwa Surah al-Baraah yang ada sekarang telah kehilangan banyak ayat di bagian awalnya sehingga gugurlah basmallahnya. (Baca: Durr al-Mantsur)
Mengapa ini tidak disinggung sedikitpun oleh Ahlussunnah, lalu mengkafirkan Imam Malik???????????
Ahlusunnah telah mengidap penyakit hati yang sangat kronis sehingga amat mustahil untuk disembuhkan lagi.


7.di/pada Maret 16, 2009 pada 10:28 am | Balas Haidar
ya begitulah…
tuduhan-tuduhan lama…
mana mau mereka buka hati dan jujur
Alhamdulillah, kita “tersesat” di jalan yang lurus..
yaitu jalannya Muhammad SAWW dan ahlulbayt a.s.
8.

PERSATUAN ISLAM


Ayatollah Al-Udzma Khamenei: Slogan Persatuan Harus Diimplemantasikan
Maret 22, 2009 oleh Islam Syiah


Ayatollah Al-Udzma Khamenei menegaskan, “Perlu perjuangan untuk mewujudkan persatuan dan mengalahkan faktor-faktor penyebab perpecahan. Dengan persatuan, banyak masalah Dunia Islam akan teratasi dan umat Islam akan terhormat.” Mengenai kondisi umat Islam dan negara-negara Muslim di dunia saat ini, juga agenda musuh untuk menguasai dan menghinakan umat Islam, Rahbar mengatakan, “Satu-satunya cara menghadapi niat busuk musuh yang dinyatakan secara terbuka ini adalah dengan persatuan yang riil.” Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengimbau Syiah dan Sunni untuk saling menghormati pemikiran dan keyakinan pihak lain. Beliau menagatakan, “Tak ada masalah jika pembahasan dan diskusi ilmiah menyangkut pemikiran dan keyakinan ini digelar dalam forum diskusi ilmiah. Tetapi diskusi ilmiah jangan sampai berubah menjadi ajang saling tuduh di tingkat masyarakat awam.”
————————————————————————–
Ayatollah Al-Udzma Khamenei: Slogan Persatuan Harus Diimplemantasikan
Memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW dan Imam Jafar Shadiq as, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei dalam pertemuan dengan Kepala Tiga Lembaga Negara, Ketua Dewan Kebijaksanaan Negara, para pejabat tinggi Republik Islam, para Duta Besar negara-negara Islam, para tamu peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-22 dan warga umum, menyebut kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai peristiwa yang sangat menentukan dalam perjalanan sejarah umat manusia. Beliau mengatakan, “Tugas terpenting dan paling besar yang diemban oleh para pengikut Nabi Muhammad SAW khususnya para politisi, ulama, cendekiawan, dan mereka yang memiliki pengaruh di tengah umat Islam adalah berjuang untuk mewujudkan persatuan Islam dan melawan segala hal yang menimbulkan perpecahan.”
Ayatollah Al-Udzma Khamenei dalam pertemuan yang berlangsung Ahad (15/3) pagi itu mengucapkan selamat atas tibanya peringatan milad Nabi terakhir Muhammad Al-Musthafa SAW dan Imam Jafar Shadiq as. Seraya menyinggung bahwa kelahiran Nabi SAW adalah peristiwa yang menetukan bagi sejarah manusia, beliau menyebutkan terjadinya berbagai peristiwa penuh makna di saat kelahiran itu. “Sejumlah peristiwa yang terjadi di saat kelahiran Nabi Muhammad SAW, sebagaimana yang disebutkan dalam sejarah, sebenarnya secara simbolik menunjukkan akan sebuah hakikat di balik kelahiran ini, yaitu bahwa kelahiran ini adalah awal dari tersingkirnya kemusyrikan, kekafiran, materialisme, kezaliman, dan kedurjanaan dari muka bumi,” jelas beliau.
Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, “Meskipun hidayah yang dibawa Rasulullah SAW belum meliputi seluruh umat manusia, namun pelita benderang dan cahaya yang kian terang itu secara perlahan membawa umat manusia ke arah sumber hidayah, dan pada akhirnya seluruh dunia akan diselimuti olehnya.”
Menurut Rahbar, semua manusia berhutang budi pada kelahiran Nabi SAW yang merupakan anugerah dari Allah SWT. Seraya menekankan keharusan bagi umat Islam untuk mengenal kewajibannya terhadap nikmat besar ini, beliau menambahkan, “Salah satu kewajiban besar umat Islam terhadap anugerah besar Ilahi ini adalah dengan menggalang persatuan dan mengimplementasikan seruan persatuan secara nyata.”
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menegaskan, “Perlu perjuangan untuk mewujudkan persatuan dan mengalahkan faktor-faktor penyebab perpecahan. Dengan persatuan, banyak masalah Dunia Islam akan teratasi dan umat Islam akan terhormat.”
Mengenai kondisi umat Islam dan negara-negara Muslim di dunia saat ini, juga agenda musuh untuk menguasai dan menghinakan umat Islam, Rahbar mengatakan, “Satu-satunya cara menghadapi niat busuk musuh yang dinyatakan secara terbuka ini adalah dengan persatuan yang riil.”
Beliau menjelaskan faktor-faktor pemicu perpecahan umat Islam dan menyebut faktor internal yang berupa fanatisme buta terhadap pendapat sebagai salah satu pemicu perpecahan. “Keimanan kepada prinsip, keyakinan dasar dan aqidah adalah hal yang baik. Akan tetapi keyakinan seperti ini jangan sampai melampaui batas pengukuhan sehingga berakibat pada penafian keyakinan pihak lain yang diiringi dengan penyerangan dan permusuhan,” tandas beliau.
Ayatollah Al-Udzma Khamenei mengimbau Syiah dan Sunni untuk saling menghormati pemikiran dan keyakinan pihak lain. Beliau menagatakan, “Tak ada masalah jika pembahasan dan diskusi ilmiah menyangkut pemikiran dan keyakinan ini digelar dalam forum diskusi ilmiah. Tetapi diskusi ilmiah jangan sampai berubah menjadi ajang saling tuduh di tingkat masyarakat awam.”
Beliau mengungkapkan bahwa selain faktor internal, ada juga juga faktor external yang menyebabkan perpecahan, yaitu langkah musuh yang berusaha keras menebar benih-benih perpecahan di tengah umat Islam. “Dalam menghadapi fitnah terprogram yang disulut oleh musuh untuk menciptakan perpecahan, umat Islam hendaknya bersikap cerdas dan bijak sehingga tidak terjebak dalam perangkap mereka.”
Namun demikian, tambah beliau, ada sebagian orang Islam atau negara Islam yang -sayangnya- telah diperalat oleh musuh untuk kepentingannya dan untuk menebar perpecahan.
Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan kembali kemenangan moqawamah Islam dalam perang 33 hari di Lebanon dan perang 22 hari di Gaza, seraya menambahkan, “Dua peristiwa ini memberikan banyak pelajaran. Sebab, setelah kemenangan gemilang yang diraih para pemuda mukmin di Lebanon dan Palestina atas pasukan Rezim Zionis Israel yang bersenjata lengkap dan modern dan setelah terbentuknya solidaritas dan kekompakan umat Islam, musuh menebar isu Syiah-Sunni dalam masalah Lebanon dan isu ras dan Arabisme terkait masalah Palestina. Dengan itu, musuh berusaha menghilangkan manisnya solidaritas yang muncul berkat kemenangan yang membanggakan ini.”
Beliau mengatakan, “Masalah Palestina adalah masalah Islam, dan tidak ada kaitannya dengan masalah Arab dan Ajam. Jika isu ras dimasukkan dalam masalah Dunia Islam maka hal itu akan menjadi faktor terbesar bagi munculnya perpecahan.”
Ayatollah Al-Udzma Khamenei menegaskan, “Dalam kondisi seperti ini, tugas terbesar ada di pundak para politikus, pejabat dan pemimpin negara-negara Islam untuk menggagalkan agenda musuh.”
“Kita tidak salah dalam menentukan faktor perpecahan itu. Jika kita dengar ada suara yang mengajak kepada perpecahan tetapi keluar dari rongga yang ada di dalam tubuh umat Islam, ketahuilah bahwa suara itu milik kekuatan arogansi dunia. Karena itu para pemimpin negara-negara Islam harus tanggap dalam menghadapinya,” tegas Rahbar.
Beliau lebih lanjut menyebutkan bahwa ulama, cendekiawan, dan mereka yang memiliki pengaruh di Dunia Islam memikul tugas dan peran penting dalam menghadapi upaya pemecahbelahan umat Islam. Mereka juga berkewajiban mengenalkan pelaku utama yang menebar perpecahan ini.
Dalam pembicaraannya, Rahbar mengenang Imam Khomeini r.a dan mengatakan, “Semoga Allah melimpahkan rahmatNya kepada arwah Imam Khomeini yang telah lantang menyuarakan persatuan di zaman kita ini dan mengajak umat Islam untuk bersatu..”
Di akhir pertemuan, para peserta Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-22 terlibat pembicaraan dari dekat dengan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Khamenei.
Di awal pertemuan tersebut Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad dalam kata sambutannya menyampaikan ucapan selamat atas peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW dan Imam Ja’far Shadiq as. Seraya menjelaskan kian menyebarnya ajaran Nabi SAW di dunia dan kebangkitan Islam yang semakin luas, Ahmadinejad mengatakan, “Di dunia saat ini kita saksikan bahwa semangat keadilan, kebaikan, dukungan kepada yang tertindas, dan resistensi menghadapi kaum zalim sudah semakin menguat dibanding masa lalu.”
Presdien Ahmadinejad menambahkan, kunci kemenangan umat Islam ada pada keimanan, resistensi, perjuangan, persatuan dan kepatuhan pada garis imamah dan wilayah. [http://leader.ir / http://khamenei.ir]

Selasa, 05 Mei 2009

HADITS TENTANG JIHAD AL-AKBAR



Ahli Hadits Mulla 'Ali al-Qari meriwayatkan dalam kitabnya al-Mawdu'at al-kubra, yang juga dikenal sebagai al-Asrar al-Marfu'a: Suyuti berkata: al-Khatib al-Baghdadi meriwayatkan dalam "Sirah"-nya dari Jabir, ketika Nabi saw kembali dari salah satu peperangannya, beliau saw bersabda:  "Kalian telah tampil ke depan dengan cara terbaik. Untuk tampil kedepan, kalian telah kembali dari jihad yang lebih kecil kepada jihad yang lebih besar." Mereka berkata: "Dan apakah jihad yang lebih besar itu?"
Beliau menjawab: "Perjuangan (Mujahadat) hamba-hamba Allah atas Hawa Nafsu / EGO mereka."

Ibn Hajar al-'Asqalani berkata dalam Tasdid al-qaws: "Perkataan ini tersebar luas, dan ini adalah perkataan Ibrahim ibn Ablah menurut Nisa'i dalam al-Kuna. Ghazali menyebutnya dalam Ihya' 'Ulumuddin-nya dan al-'Iraqi berkata bahwa Bayhaqi meriwayatkannya dari Jabir dan berkata: Ada kelemahan dalam rantai periwayatannya." dikutip dari `Ali al-Qari, al-Asrar al-marfu`a (Beirut 1985 ed.) hal. 127
Referensi dan rujukan ke hadits di atas (hadits tentang kembalinya Rasulullah s.a.w. dari jihad asghar ke jihad akbar) mencakup beberapa paragraph. Jika dikutip nampaknya memang, penyandarannya pada Nabi, Salla Allahu 'alayhi wa Sallam, adalah lemah, tapi maknanya dapat disarikan pula dari sumber-sumber lain dari Hadits dan Quran. Sebagai catatan, Imam Nawawi telah mengatakan, sebagaimana dikutip dari   sebelumnya: [Ulama dari kalangan Muhaddits, fuqahaa, dan lainnya berkata: Adalah diizinkan dan dianjurkan untuk beramal berdasarkan hadits lemah (dha'if), yang tidak dimodifikasi, yang berkaitan dengan fadhilah dan keutamaan amal,
penganjuran dan peringatan (targhib wat tarhib).

Tetapi, jika berkaitan dengan hukum seperti masalah halal dan haraam, jual dan beli, pernikahan dan perceraian, dan selain dari itu, maka tidaklah boleh dipakai hadits lemah kecuali jika berkaitan dengan pengambilan alternatif teraman (setelah tak adanya dalil-dalil yang lebih sahih, penj.) dalam hal-hal tersebut].

Al-Hafiz Ibn Abu Jamra al-Azdi al-Andalusi (wafat 695 H) berkata dalam kitab Syarah Bukhari-nya yang berjudul Bahjat al-Nufus: 'Umar ra meriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang pada Nabi sallallahu alaihi wassalam meminta izin untuk pergi berjihad. Kemudian Nabi saw bertanya: "Apakah orang tuamu masih hidup?" Ia menjawab bahwa mereka masih hidup. Nabi kemudian menjawab: "Jika demikian berjihadlah untuk memenuhi hak-hak mereka" (fihima fa jahid) .

Dalam hadits ini ada bukti bahwa Sunnah Rasul saw dalam memasuki Tariqah (jalan) dan menjalani disiplin diri adalah  untuk melakukannya di bawah bimbingan seorang ahli, sehingga ia akan ditunjukkan jalan yang terbaik baginya untuk diikuti, dan tersahih untuk penempuh jalan tersebut. Karena ketika sahabat itu ingin pergi berjihad, ia tidak memuaskan dirinya dengan pendapatnya/ ego nafsunya sendiri dalam masalah itu, tapi mencari nasihat dari seseorang yang lebih berilmu daripada dia dan lebih ahli. Jika hal ini  kasusnya untuk Jihad kecil (peperangan fisik),
bagaimana pula untuk Jihad Akbar atau Peperangan Melawan Hawa Nafsu atau
Ego? (dari Ibn Abu Jamra, Bahjat al-nufus sharh mukhtasar sahih al-bukhari 3:146.)

Hal ini penting: untuk mengetahui dan belajar dengan tujuan untuk mengamalkannya! Tidak sekedar untuk tahu, atau untuk memiliki ilmu -- tidak!  Kita membutuhkan lebih banyak pengetahuan hanya untuk bisa  mengamalkannya dan untuk  menggunakannya dalam perjuangan kita melawan ego / nafsu kita. Kalian mencari ilmu dengan tujuan untuk mencapai hikmah, karena tanpa hikmah, tidak mungkin untuk menghentikan ego kalian. Ego menyerang dan melawan diri kalian.

Hikmah adalah bagaikan bom-bom atom bagi ego kalian, sedangkan ilmu dan pengetahuan lainnya hanya seperti senjata-senjata sederhana yang di zaman kita ini mereka tidak akan bekerja; senjata-senjata sederhana tidak berarti apa-apa sekarang, atau ilmu tidak berarti apa-apa dibandingkan Hikmah yang dibawa Awliya Pewaris Nabi saw. Dengan mendekatnya hari akhir, senjata-senjata iblis, senjata-senjata Setan, juga meningkat, untuk mengeluarkan manusia dari iman dan kepercayaan.

Tetapi, sebagaimana Setan meningkatkan serangan-serangan dan metode-metode yang ia gunakan untuk membuat manusia tak percaya dan tanpa iman, awliya' (kekasih-kekasih Allah) pun menggunakan "Hikmah" untuk mengalahkan Setan dan pembantu-pembantunya serta penolong-penolongnya. Hikmah bagaikan bahan baker, sementara ilmu bagaikan pesawat terbang. Banyak orang yang mengagumi ilmunya, tetapi tanpa bahan bakar, maka pesawat tersebut tak akan dapat terbang.

Allah berfirman: "Mereka yang berjuang (berjihad) demi Kami, akan Kami bimbing mereka ke dalam jalan-jalan Kami" (29:96). Allah swt telah membuat petunjuk atau bimbingan (Hudan) bergantung pada jihad. Karena itulah, orang-orang yang paling sempurna adalah mereka yang berjuang paling gigih demi-Nya, dan di antara jihad yang paling wajib (afrad al-jihad) adalah jihad terhadap ego, jihad atas hawa nafsu, jihad atas setan, dan jihad atas dunia yang rendah (jihad al-nafs wa jihad al-hawa wa jihad al-shaytan wa jihad al-dunya).

Siapa saja yang berjihad melawan keempat hal ini, Allah akan membimbing mereka menuju jalan-jalan kebaikan-Nya yang menuju pada Surga-Nya, dan siapa saja yang meninggalkan jihad, maka ia telah meninggalkan petunjuk sebesar ia telah meninggalkan jihad.

Al-Junayd berkata dalam menafsirkan ayat di atas: "Mereka yang berjihad atas hawa nafsu mereka dan bertaubat demi Kami, Kami akan membimbing mereka pada jalan Ketulusan, dan seseorang tak akan dapat berjihad melawan musuhnya di luar dirinya (yaitu dengan pedang) kecuali  ia yang telah berjihad melawan musuh-musuh ini dalam dirinya. Kemudian, siapa yang telah menang atas musuh-musuh dalam dirinya akan pula menang atas musuh-musuhnya (di luar), dan siapa yang kalah oleh musuh-musuh dalam dirinya, maka musuh di luar dirinya akan mengalahkannya." (dikutip oleh Ibn Qayyim al-Jawziyya, al-Fawa'id, ed. Muhammad 'Ali Qutb, Alexandria: dar
al-da'wa. 1412/1992, halaman 50).

Kompetisi dan berlomba diizinkan dalam meraih keunggulan dalam ibadah. Dalam rangka inilah, Allah menerangkan tingkatan-tingkaan di antara hamba-hamba-Nya yang beriman dalam Kitab-Nya, dan ini pun dijelaskan dalam berbagai hadits. Pahala Jihad adalah sedemikian tinggi sebagaimana dijelaskan oleh Hadits Nabi bahwa, jika ia dapat, ia akan minta Allah untuk menghidupkannya kembali sehingga ia dapat mati kembali sebagai syahid berkali-kali.

Sekalipun demikian, berkaitan dengan isu ini, Para Pengingat Allah (Adz-Dzakirin) termasuk ulama-ulama sempurna yang mengetahui (ma'rifat) akan Allah ('Arifin)adalah lebih mulia daripada mujahidin. Sebagai contoh, sekalipun Zayd bin Haritsah dan Khalid bin Walid adalah jenderal-jenderal besar, kematian mereka tidaklah dirasakan seberat kematian Abu Musa al-Ash'ari atau Ibn 'Abbas (dua sahabat yang merupakan 'ulama besar dan 'arifin), jika diukur dari kerugian yang dirasakan oleh ummat Islam
sebagai akibat kematian sahabat-sahabat tersebut.

Untuk alasan inilah, Nabi saw secara eksplisit menyatakan superioritas para mudzakkirin dalam dua hadits sahih di bawah: Nabi salla-Allahu 'alayhi wasallam bersabda: "Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang terbaik di antara semua amal, merupakan amal salih terbaik  di mata Tuhan kalian, meninggikan derajat kalian di akhirat, dan memiliki keutamaan lebih besar daripada membelanjakan emas dan perak di jalan Allah, atau berperan serta dalan jihad dan membunuh atau terbunuh di jalan Allah?" Mereka (para sahabat) berkata: "Ya, mau!" Beliau bersabda: "Dzikr Allah (Mengingat Allah)".

Diriwayatkan dari Abu al-Darda' oleh Ahmad, Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Abi al-Dunya, al-Hakim yang menyatakannya sahih, dan adz-Dzahabi mengkonfirmasikan kesahihannya, Bayhaqi, Suyuti dalam al-Jami' al-saghir, dan Ahmad juga meriwayatkannya dari Mu'adz bin Jabal. Beliau juga bersabda: "Meski seseorang menebas orang-orang kafir dan musyrikin dengan pedangnya sampai pedang itu patah, dan ia benar-benar terselimuti dengan darah mereka, Al-Mudzakkirin (Para Ahli Dzikir Pengingat Allah) ada di atas mereka satu derajat." Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri oleh Ahmad (3:75), Tirmidzi (#3376), Baghawi dalam Syarh al-Sunna
(5:195), Ibn Katsir dalam Tafsirnya (6:416), dan lain-lainnya.

PERKEMBANGAN MASA PUBER


CIRI PERKEMBANGAN ANAK DALAM MASA PUBERTAS
HAKEKAT PERKEMBANGAN
Kalau kita memperlihatkan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, baik kehidupan manusia, binatang, flora, fauna maupun benda-benda anorganing, kita akan melihat satu hal yang abadi, yaitu selalu adanya perubahan.
Semuanya berubah, tidak satupun yang abadi kecuali ketidak abadian itu sendiri. Demikian pula halnya dengan manusia, yang bermula telur, kemudian melalui gris pertumbuhan : janin, bayi, kanak-kanak, anak, permuda, adolesen, orang tua dan dengan segala variasinya sendiri.
Menurut irama perkembangannya sendiri-sendiri, tiada dua orang yang sama. Tiada dua orang yang sama. Tiada seorang ahlipun yang mampu menemukan sesuatu hukum tertentu.
Perkembangan yang dialami manusia adalah perkembangan biologis, yaitu dari telur ke janin, kemudian menjadi bayi dan seterusnya, kemudian baru secara psikhis. Yang bermula dari sifatnya yang tidak berdaya.
Secara umum perkembangan manusia selalu dipengaruhi oleh fktor luar dan faktor dalam. Dalam perkembangan hubungan keluarga juga sangat mendukung perkembangan anak.
1. Ciri-ciri Penting Periode Pubertas
Kata pubertas berasal dari kata latin yang berarti usia menjadi orang, suatu periode dalam mana anak dipersiapkan untuk mampu menjadi individu yang dapat melaksanakan tugas biologis berupa melanjutkan keturunannya atau berkembang biak. Perubahan-perubahan biologis berupa mulai bekerjanya organ-organ reproduktif dan disertai pula oleh perubahan-perubahan yang bersifat psikologis.
Ciri-ciri utama dan umum periode pubertas :
a. Pubertas merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Dikatakan transisi sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa remaja. Dikatakan tumpang tindih sebab beberapa ciri biologis-psikologis kanak-kanak masih dimiliknya, sementara beberapa ciri remaja dimilikinya pula.
b. Pubertas merupakan periode terjadinya perubahan yang sangat cepat. Perubahan dari bentuk tubuh kanak-kanak pada umumnya ke arah bentuk tubuh orang dewasa. Terjadi pula perubahan sikap dan sifat yang menonjol, terutama terhadap teman sebaya lawan jenis, terhadap permainan dan anggota keluarga.
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Fisik
Secara umum terjadi pertumbuhan dan perkembangan fisik yang sangat pesat dalam masa pubertas. Tubuhnya mulai menunjukkan mekar-tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak. Sebagian ciri pubertas yang dia miliki ditunjukkan dalam sikap, perasaan, keinginan, dan perbuatan-perbuatan.
Sikapnya yang paling menonjol antara lain sikap tidak tenang dan tidak menentu.
Pertumbuhan dan perkembangan badannya, tumbuh normal, sesuai dengan usianya. Berat badannya 40 kg, dan tinggi badannya.
3. Pertumbuhan dan perkembangan Biologis – Psikologis Masa Pubertas
a. Ciri-ciri seks primer
Perkembangan organ-organ seks wanita ditandai dengan adanya haid pertama atau “menarche” yang disertai dengan berbagai perasaan tidak enak bagi yang mengalaminya.
Haid (menstruasi) yang pertama kali dia alami pada usia 9 tahun. Jika dilihat dari usianya saat ia mengalami menstruasi, ia masih dalam masa kanak-kanak akhir. Cukup mengejutkan dirinya saat ia mengalami menstruasi pertama, karena usia dan sifatnya yang masih kekanak-kanakan.
Setelah menstruasi itu ia alami beberapa kali, ia mulai bisa dan mengerti bahwa dirinya telah tumbuh menjadi seorang remaja. Sedikit demi sedikit dan perlahan demi perlahan ia mulai bisa meninggalkan kebiasaan sifat kekanak-kanakannya.
b. Ciri-ciri seks sekunder
Gejala yang mulai ditunjukkan dari dirinya yaitu :
- Pinggul yang membesar dan membulat
- Dada yang semakin nampak menonjol
- Tumbuhnya rambuh di daerah kelamin, ketiak, lengan dan kaki
- Perubahan suara dari suara kanak-kanak menjadi lebih merdu (melodius)
- Kelenjar keringat lebih aktif dan sering tumbuh jerawat
- Kulit menjadi lebih besar dibanding kulit anak-anak.

CIRI-CIRI MASA REMAJA


Remaja sebagai manusia berpotensi
“Remaja”. Kata itu menurut remaja sendiri adalah kelompok minoritas yang punya warna tersendiri, yang punya “dunia” tersendiri yang sukar dijamah oleh orang  tua.
Sekarang  kelompok remaja adalah manusia yang mempunyai potensi. Remaja kelompok yang mempunyai vitalitas, semangat priorita, harapan penerus generasi. Generasi muda diarahkan  untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan bangsa dan pembangunan nasional dengan memberikan bekal keterampilan, kepemimpinan, kesegaran jasmani, daya kreasi, patriotisme idealisme, kepribadian dan budi pekerti luhur. Untuk itu perlu diciptakan iklim yang sehat sehingga memungkinkan kreativitas generasi muda berkembang secara wajar dan bertanggung jawab. Segi pendekatannya melalui pendidikan formal, non formal, atau pun informal; di luar maupun di dalam sekolah. Sebagai contoh kecil usaha melibatkan generasi muda dalam pembangunan adalah pengikutsertaan masa remaja dalam pendidikan politik yang kongkritnya nampak dilakukan dalam banyak kegiatan kampanye pemilu 1982.
 
Usaha-usaha untuk mengerti dan memahami remaja
Usaha-usaha untuk mengerti dan memahami remaja yaitu dengan mengetahui dan mnegerti tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja, khususnya dalam mengantar remaja menuju kematangan psikis dan kematangan sosialnya.
 
Ikhtisar hal-hal yang perlu dimengerti dan dipahami
Rentangan usia dan ciri-ciri remaja;
Sebelum seseorang disebut remaja yaitu “ambang pintu masa remaja” yang sering dikenal dengan sebutan “pubertas” dengan aneka keunikannya. Ciri-cirinya penuh dengan “badai dan topan” , perasaan yang penuh gejolak dan peka terhadap rangsang-rangsang negatif.
G. Stanley Hall,mengatakan bahwa  masa ini disebut sebagai masa yang penuh dengan “strom and stress”. Kemudian ciri-ciri remaja akhir adalah suatu masa indah dalam kehidupannya. Young men and Young women ini menghiasi hdup  mereka dengan kisah cinta yang tidak jarang menghanyutkan.
Pertumbuhan jasmani remaja awal sedmikian cepat’ terjadi ketidakseimbangan berbagai anggota badan, sehingga seringkali mereka nampak mengalami ketidakseimbangan badan dan ketidakseimbangan gerak. Selanjutnya pertumbuhan kelenjar-kelenjar seks dan perkmebangan perilaku seksual diketahui telah mengalami “sejarah” yang cukup panjang.
 
Rentang usia dan ciri-ciri remaja
Elizabeth B Hurlock  jika dibagi berdasarkan bentuk-bentuk dan pola-pola perilaku yang nampak khas bagi usia-usia, maka kematangan kehidupan terdiri atas 11 masa yaitu:
1.    prenatal: saat konsepsi sampai lahir.
2.    masa neonatus: lahir sampai akhir minggu kedua setelah lahir.
3.    masa bayi: akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.    masa kanak-kanak awal: dua tahun sampai enam tahun.
5.    masa anak-anak akhir: 6 tahun sampai dengan 10-11 tahun.
6.    masa pubertas/preadolescence: 10-12 tahun sampai dengan 13-14 tahun.
7.    masa remaja awal: 13-14 tahun sampai dengan 17 tahun.
8.    masa remaja akhir: 17 tahun sampai dengan 21 tahun.
9.    masa dewasa awal: 20 tahun sampai dengan 40 tahun.
10.masa setengah baya: 40 tahun sampai dengan 60 tahun.
11.masa tua: 60 tahun sampai dengan meninggal.
 
Ciri-ciri penting periode pubertas
Pubertas merupakan periode transisi dan tumpang tindih. Sebab pubertas berada dalam peralihan antara masa anak-anak danremaja, disebut kanan-kanak tidak tepat disebut dewasa juga tidak. Ada beberapa ciri  yang bersangkutan dengan pertumbuhan danperkembangan biologis dan psikologis.
Ciri-ciri primer:
Bagi wanita ditandai dengan haid pertama (menarche) yang disertai pelbagai perasaan tak enak bagi yang mengalaminya. Bagi pria ditandai oleh mimpi polusi (mimpi basah) atau dikenal dengan sebutan nocturnal emmisions.
Ciri-ciri seks sekunder:
Bagi wanita pinggulnya membesar dan membulat, buah dada semakin nampak menonjol, tumbuhnya rambut di daerah alat kelamin, ketiak, lengan, dan kaki. Ada perubahan suara dar suara anak-anak menjadi lebih merdu (melodious), kelenjar keringat lebih aktif dan sering tumbuh jerawat, kulit menjadi lebih kasar dibanding kulit anak-anak.
Bagi pria otot-otot tubuh , dada, lengan, paha dan kaki tumbuh kuat, tumbuhnya rambut di daerah  alat kelamin, betis dan kadang-kadang dada; terjadi perubahan suara yaitu nada pecah dan suara merendah hingga sampai akhir masa remaja, volume suara turun satu oktaf, aktifnya kelenjar-kelenjar keringat dan kelenjar-kelenjar ini menghasilkan keringat yang banyak walaupun remaja tersebut bergerak sedikit saja. Pada usia 11-12 tahun wnaita lebih cepat tumbuh dibanding pria sehingga secara tidak sadar si puber sering merasa iri hati terhadap si puber wanita. Inilah sebabnya sering ada puber pria yang menjauhi bahkan bermusuhan dengan puber wanita pada usia ini, istilahnya sex antagonisme. Akan tetapi dalam pertumbuhan tubuh kekar maka mulailah timbul saling tertarik antara 2 jenis kelamin ini. Hal yang demikian dipengaruhi oleh daya tarik seksuil atau “sex appeal”.
Setelah melewati masa pubertasnya sip uber ini akan memasuki masa remaja awal yang ditandai dengan  ketidakstabilan kedaan perasaan dan emosinya, dalam bekerja ia tiba-tiba bersemangat sekali namun bisa juga kelihatan lesu sekali, dalam hal sikap dan moralnya terutama menonjol menjelang akhir remaja awal (15-17 tahun). Ada dorngan-dorngan seks dan kecenderungan memenuhi dorongan itu sheingga kadng-kadang dinilai oleh masayarakat tidak sopan, dalam hal kemampuan mental dan kecerdasan mulai sempurna. Kesempurnaan mengambil kesimpulan dan informasi abstrak mulai pada usia 14 tahun. Akibatnya si remaja awal suka menolak hal-hal yang tidak masuk akal tetapi dengan alasan yang masuk akal remaja cenderung mengikuti pemikiran orang dewasa. Hal status remaja awal sangat sulit ditentukan bahkan membingungkan. Perlakuan yang diberikan orang dewasa kepada remaja awal sering berganti-ganti. Ada keraguan orang dewasa untuk memberi tanggung jawab kepada remaja dengan dalih “merasa masih anak-anak” tetapi pada lain kesempatan si remaj awal sering mendapat teguran sebagai “orang yang sudah besar” jika remaja awal bertingkah laku yang kekanak-kanakan. Akibatnya si remaja awalpun mendapat sumber kebingungan dan menambah masalahnya.
Setelah masa remaja awal berakhir si remaja awal ini akan menghadapi masa remaja akhir yang ditandai dengan stabilitas yang mulai meningkat, citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis, menghadapi masalahnya secara lebih matang dan perasaan yang lebih tenang.

PERKEMBANGAN INDIVIDU

Dalam berbagai literatur kita dapati berbagai pendekatan dalam menentukan tahapan perkembangan individu, diantaranya adalah pendekatan didaktis. Dalam hal ini, Syamsu Yusuf (2003) mengemukakan tahapan perkembangan individu dengan menggunakan pendekatan didaktis, sebagai berikut :
Masa Usia Pra Sekolah
Masa Usia Pra Sekolah terbagi dua yaitu (1) Masa Vital dan (2) Masa Estetik
1.Masa Vital; pada masa ini individu menggunakan fungsi-fungsi biologis untuk menemukan berbagai hal dalam dunianya. Untuk masa belajar pada tahun pertama dalam kehidupan individu , Freud menyebutnya sebagai masa oral (mulut), karena mulut dipandang sebagai sumber kenikmatan dan merupakan alat untuk melakukan eksplorasi dan belajar.Pada tahun kedua anak belajar berjalan sehingga anak belajar menguasai ruang, mulai dari yang paling dekat sampai dengan ruang yang jauh. Pada tahun kedua umunya terjadi pembiasaan terhadap kebersihan. Melalui latihan kebersihan, anak belajar mengendalikan impuls-impuls atau dorongan-dorongan yang datang dari dalam dirinya.
2.Masa Estetik; dianggap sebagai masa perkembangan rasa keindahan. Anak bereksplorasi dan belajar melalui panca inderanya. Pada masa ini panca indera masih sangat peka.
Masa Usia Sekolah Dasar
Masa Usia Sekolah Dasar disebut juga masa intelektual, atau masa keserasian bersekolah pada umur 6-7 tahun anak dianggap sudah matang untuk memasuki sekolah. Masa Usia Sekolah Dasar terbagi dua, yaitu : (a) masa kelas-kelas rendah dan (b) masa kelas tinggi.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas rendah(6/7 – 9/10 tahun) :
1.Adanya korelasi positif yang tinggi antara keadaan jasmani dengan prestasi.
2.Sikap tunduk kepada peraturan-peraturan permainan tradisional.
3.Adanya kecenderungan memuji diri sendiri.
4.Membandingkan dirinya dengan anak yang lain.
5.Apabila tidak dapat menyelesaikan suatu soal, maka soal itu dianggap tidak penting.
6.Pada masa ini (terutama usia 6 – 8 tahun) anak menghendaki nilai angka rapor yang baik, tanpa mengingat apakah prestasinya memang pantas diberi nilai baik atau tidak.
Ciri-ciri pada masa kelas-kelas tinggi (9/10-12/13 tahun) :
1.Minat terhadap kehidupan praktis sehari-hari yang konkret.
2.Amat realistik, rasa ingin tahu dan ingin belajar.
3.Menjelang akhir masa ini telah ada minat kepada hal-hal atau mata pelajaran khusus sebagai mulai menonjolnya bakat-bakat khusus.
4.Sampai usia 11 tahun anak membutuhkan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya. Selepas usia ini pada umumnya anak menghadapi tugas-tugasnya dengan bebas dan berusaha untuk menyelesaikannya.
5.Pada masa ini anak memandang nilai (angka rapor) sebagai ukuran tepat mengenai prestasi sekolahnya.
6.Gemar membentuk kelompok sebaya untuk bermain bersama. Dalam permainan itu mereka tidak terikat lagi dengan aturan permainan tradisional (yang sudah ada), mereka membuat peraturan sendiri.
Masa Usia Sekolah Menengah
Masa usia sekolah menengah bertepatan dengan masa remaja, yang terbagai ke dalam 3 bagian yaitu :
1.masa remaja awal; biasanya ditandai dengan sifat-sifat negatif, dalam jasmani dan mental, prestasi, serta sikap sosial,
2.masa remaja madya; pada masa ini mulai tumbuh dorongan untuk hidup, kebutuhan akan adanya teman yang dapat memahami dan menolongnya. Pada masa ini sebagai masa mencari sesuatu yang dipandang bernilai, pantas dijunjung dan dipuja.
3.masa remaja akhir; setelah remaja dapat menentukan pendirian hidupnya, pada dasarnya telah tercapai masa remaja akhir dan telah terpenuhi tugas-tugas perkembangan pada masa remaja, yang akan memberikan dasar bagi memasuki masa berikutnya yaitu masa dewasa.
Masa Usia Kemahasiswaan (18,00-25,00 tahun)
Masa ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal atau dewasa madya, yang intinya pada masa ini merupakan pemantapan pendirian hidup.

HUKUM SHOLAT JAMA'


HUKUM SHOLAT JAMA’

Ustadz Husain bin Abu bakar Al-habsy(Penulis buku UKHUWAH ISLAMIYAH): Saya kira tidak ada persamaan antara Syi ‘ah dan agama tiga waktu itu,sebab kita (Ahlus Sunnah) sendiri membolehkan cara demikian itu. Pertama Ahlussunnah sepakat tentang bolehnya jamak di Arafah. Antara Dhuhur-Asar dan kita namakan jamak takdim.Kedua kita menjamak shalat Maghrib-lsya’ di Mudzdalifah yang dinamakan jamak takhir.Pendapat ini telah disepakati oleh kaum muslimin, termasuk Syi ‘ah. Ahlus sunnah membolehkan jamak takdim dan takhir dua fardhu kalau kita dalam perjalanan atau safar.
jadi shalat jamak Dhuhur Ashar di waktu Dhuhur atau di saat Ashar. Maghrib-Isya’ diwaktu Maghrib atau telah masuk waktu Isya’. Shalat-shalat ini boleh dijamak kalau kita dalam perjalanan,’ tetapi Syi’ah tidak demikian.
Syi’ah mengatakan walaupun seseorang tidak dalam perjalanan Ia boleh menjamak shalat-shalatnya. Selain ‘itu ada satu madzhab yang berbeda dengan yang lain dalamAhlussunnah tentang masalah ini. Yakni Madzhab Imam Syafi’i yang menyatakan,;
“Orang boleh menjamak shalat shalat Dhuhur-Ashar, Maghrib-isya’ walaupun dia tidak dalam perjalanan. Tidak ada halangan hujan dan tanpa alasan apa pun. Cuma beliau menyatakan bahwa hal itu tidak boleh dijadikan kebiasaan.”48
Kalau menurut Imamiyah, kita boleh menjadikannya kebiasaan sepanjang tahun. Dalammasalah ini mereka tentunya berdasarkan hadits-hadits yang shahih. Yakni Hadits yangmenyatakan bahwa Rasulullah Saww pernah menjamak antara Dhuhur dan Ashar sebagaimana diriwayatkan Muslim.49 . Maksud Nabi hanya untuk meringankan ummatnya, kalau kita mau mengkaji kitab-kitab hadits kita yang shahih maka kita akan. tahu bahwa:
Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Saww pernah menjama’ shalat-shalat beliau di Madinah sedangkan beliau dalam keadaan tidak dalamperjalanan.50
Di dalam kitab Imam Malik “Al Muwatha” 51 Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa
Rasulullah Saww shalat Dhuhur dan Ashar dijamak, juga Maghrib dan Isya’. Tanpa alasan perang atau perjalanan, Imam Muslim dalam shahihnya bab jamak antara dua shalat di dalam kota.
Juga dan Ibnu Abbas Rasulullah Saww pernah shalat Dhuhur-Ashar,dan Maghrib-Isya’ di Madlnah tanpa alasan apa pun dan dijamak di kotanya sendiri.52
Juga Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah Saww shalat jamak antara Dhuhur-Ashar dan Maghrib-Isya di Madinah tanpa ada satu alasan pun. Kemudian perawi hadits ini bertanya kepada Ibnu Abbas:
”Mengapa beliau berbuat begitu? Ibnu Abbas menjawab: Agar ummat Islam tidak merasa sulit.”53 Sekarang banyak pegawai dan sebagainya yang ketika pulang ke rumah sudah jam 3 sore sedangkan saat itu waktu Ashar telah masuk, kalau dia tidak jamak shalat Dhuhur Ashar, mungkin shalatnya tercecer, juga orang yang bekerja di bengkel-bengkel dan berlepotan minyak dls.
Bukhari juga meriwayatkan dalam bab waktu shalat Maghrib.54 Dalam Shahihnya beliau Hadhor Juz 2 hal. 152) Cuma dalam masalah ini tidak qashar, demikian pula Imamiyah. Saya kira dalil-dalil ini cukup menunjukkan bahwa Ahlussunnah juga membenarkan shalat jamak. Yang jelas yang dikatakan tiga waktu itu bukan tiga shalat tetapi lima shalat dalam tiga waktu, dan kita harus membedakan keduanya itu. Fatwa Imam Khomaini menyatakan, lebih afdhal masing masing shalat dilakukan pada waktunya. Fatwa tersebut ada dalam kitab beliau “Tahrir Al. Washilah” (juga ulama-ulama mujtahidin Syi’ah yang lainnya seperti Sayyid Abul Qasim al-Khu’I memfatwakan hal yang sama).


48 M.Hafidh Ibnu Hajar berkat. dalam buku ‘Fathul Bari: Sekelompok Ulama (para Imam) mengambil
Hadith itu (hadits dibolehkannya jama’ tanpa ada alaasan atau udzur) sebagai bukti dan mereka
membolehkan menjama’ shalat dalam keadaan bermukim secais mutlak jika diperlukan, asal tidak
dijadikan sebagai kebiasaan.Dan di antara mereka yang membolehkan hal itu adalah: Ibnu Sirrin ‘Ra,
Robi’ah, Asyhab bin Mundzir, Al Qoffal Al-Kabir. Al-Khottobi menceritakan atau mengutip pendapat itu
dari sekelompok ulama ahli hadita (Tuhfazul Ahwazi oleb: Al-Mubarokfuri Al-Hindi Juz I hal. 558,
Anjazul Masalik ii. Muwatto’i Malik oteh: Maulana Muhammad Zakaria Al Kandahliawi Juz 3 hat. 79.
Syarh Zarqoni II. Muwatho’i Malik okh: Muhammad Zarqoni Iuz I hal 294. Shahih Muslim Syarh Nawawi
Juz 5 hal. 218-219.
49 Dari Jabir bin Zaid dari Ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah Saww menjama’ shalat di Madinah tujuh
dan delapan rakaat antara Dhuhur-Ashar serta Maghrib-lsya’ (Muslim Bab Jamak baina shalatani Fil
50 Musnad Ahmad Juz I hal. 221 cet. Maktab Islami Beirut th. 1391 H (1978M) bunyi Haditsnya sama
seperti di atas.
51 Muwatha’ Malik Bab AI-Jam’u baina shalatain hadits No. 328.
52 Diriwayatksn dan lbnu Abbas berkata: “Rasulullah Saww menjamak antara Dhuhur dan Ashar serta
antara Maghrib dan Ishak tanpa ada sebab, baik takut (diserbu lawan secara mendadak) maupun udzur
berpergian atau safar (Muslim dalam Shahihnya Bab Al-Jam’u Bainas shalataini fil Hadhor Juz 2 hal. 150
cet. Darul Ma’rifah Beirut).
53 Diriwayatkan dan Syaqiq, da berkata: “Pada suatu hari lbnu Abbas memberikan ceramah mulai dan
setelah Ashar hingga matahari tenggelam dan bintang-bintang pun bermunculan lalu onang- orang berteriakmengajak shalat, ia (perawi) berkata: Lalu datanglah seorang dan bani Tamim dengan sikap kasar dan berteriak shalat-shalat, kemudian lbnu Abbas menjawab: “Apakah anda datang untuk mengajarku sunnah, mudah-mudahan ibumu mati (la umma lak), ia(Ibnu Abbss)berkata: ‘Rasulullah menjamak antara shalat Dhuhur dan Asar serta Maghrib dan Isya, Abdullah (perawi) berkata mendengar ucapan Ibnu Abbas itu aku belum merasa puas, kemudian aku datang pada Abu Hurairah dan kutanyakan kepadanya tentang hal itu
dan ia pun membenarkan ucapan lbnu Abbas. Muslim meriwayatkan hadits ini dari dua jalur. Sunan
Turmudzy Juz I hal. 354 cet. Al-Halabi Mesir 1398 H(1978 M).
54 Shahih Bukhari Kitabul Sholah bab waqtul maghrib juz I hal. 107 berkata, Amer bin Dinar berkata: Saya dengan Jabir bin Zaid, dan Ibnu Abbas berkata:
Nabi Saww shalat tujuh dan delapan raka ‘at (tujuh, Maghrib-Isya sedang delapan,
Dhuhur-Ashar) di Madinah.